Kamis, 25 Maret 2010

"MALING TERIAK MALING"

“Amenangi jaman maling, ayo padha dadi maling/ sebab yen tan melu nglakoni maling/ sira kang bakal dimaling// Amenangi jaman maling/ madhep ngalor dadi maling/ madhep ngidul dadi maling// Mula sira padha elinga: maling ra maling tetepa maling/ Sebab sabeja-bejane kang ora maling/ isih beja kang maling kanti waspada.


Itu tadi syair Ronggowarsito yang diplesetkan. Saya kopi dari sebuah blog Pak Budiyono (budiagency.wordpress.com). Bagus juga untuk jadi topik opini saya. Nuwun sewu ya, pak Bud….tembange apik tenan je!
“Maling teriak maling” adalah ekspresi dari seseorang dalam melihat suatu kenyataan yang tidak disepakati, bisa jadi itu pembelaan terhadap kasus yang berlawanan dengan opini yang berlawanan. Istilah ini menunjukkan bahwa orang tidak mau disalahkan oleh orang yang pernah melakukan perbuatan yang sama, kalau perlu orang yang menyalahkan itu ikut dimasukkan pula dalam lingkaran hukum.
Maling adalah seseorang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya untuk dimiliki. Maling bagi sebagian orang merupakan perbuatan yang menistakan keluarga maupun pribadi, tapi kadang harus dilakukan kalau tidak ada jalan lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Maling bisa dilakukan secara terhormat seperti Robin Hood atau Si Pitung, tapi bisa juga tidak terhormat seperti yang bisa kita lihat di sel-sel tahanan polisi sekarang. Perbuatan maling dimana-mana tetap saja merupakan pelanggaran hukum, bukan hanya pada dikenakan pada orang-orang yang emang dasarnya punya trah maling atau orang yang bersembunyi dibalik kemeja (white collar).
Individu yang saling bekerjasama (kolaborasi) untuk menjadi maling tentu mengharapkan perbuatannya tidak ingin diketahui masyarakat, karena kalau ketahuan resikonya bisa banyak macam: digebukin sampai mati, dibakar hidup-hidup, dipenjara, diberitakan di koran-koran, atau hanya diperingatkan untuk tidak dilakukan lagi.
Karena kerjasamanya tersebut, maka para maling ini mempunyai kode etik permalingan, bahwa tidak akan buka mulut mengenai harta yang diambil, tidak dengki dengan pembagian hartanya, tidak melaporkan ke polisi kalau tidak mendapat jatah lebih, dan tidak membuka rahasia cara malingnya kecuali kalau mau alih generasi.
Seorang maling pasti akan mempelajari cara-cara maling dari seorang maling juga, gak mungkin dia akan maling tapi berguru pada seorang kyai, karena ilmunya nanti gak akan nyambung. Oleh sebab itu maling yang tidak bekerja sendiri pasti akan menularkan sedikit ilmu malingnya kepada maling yunior, karena si maling senior pasti akan memikirkan kalau dia sudah tidak aktif lagi mungkin masih bisa kecipratan hasil malingnya si yunior.
Seorang maling tidak mau berhadapan dengan penegak hukum, karena aib yang akan ia terima (apalagi kalau maling itu tidak memberitahukan pekerjaannya kepada keluarganya). Ia pasti akan malu kalau namanya terpampang di koran-koran lengkap dengan wajahnya. Kemudian polisi pasti akan bertanya apakah ia bekerja sendiri ataukah ada yang membantu, seorang maling sejati pasti tidak akan membeberkan rahasia siapa yang membantunya, namun kala ia dihadapkan pada situasi dimana kejahatannya didapat dari hasil kerjasama maka si maling tentu tidak mau pasang badan untuk mengakui perbuatannya, dia pasti akan menyeret maling yang bekerjasama dengannya untuk masuk penjara bareng dengannya.
Situasi ini akhirnya membuat orang yang tidak turut ditangkap oleh polisi merasa jengah karena alat bukti hanya berdasarkan keterangan si maling tadi, hingga dia pasti akan mengklarifikasi ke khalayak ramai bahwa dirinya bersih, adalah fitnah dan perbuatan nista orang yang menuduhnya sebagai maling juga. Inilah yang disebut “maling teriak maling” atau “maling ngumpet wedi silit” …..di dunia ini siapa mau sih dicap hina sebagai maling? (dalam hati orang yang dituduh maling akan debar-debar, mudah-mudahan tuduhannya tidak terbukti…kalau gak terbukti kan aku bisa menikmati hasil malingnya dan bisa maling lagi di tempat lain yang lebih tajir).
Lebih susah lagi kalau “maling teriak maling” pada kumpulan maling-maling yang sudah terstruktur (halaahh…ono yo struktur organisasi maling?), karena orang lain sudah tidak akan menggubris teriakannya. Yang bisa dia lakukan kalau tertangkap ya hanya berdoa, semoga saja temannya maling itu tergelincir pada perbuatan yang lebih nista lagi atau Ya Tuhan semoga dia berhenti jadi maling tidak seperti diriku…hehehehe, ikhlas gak?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar