Kamis, 23 April 2009

Perspektif Sejarah Otobiografi "HOEGENG"


Perjalanan Sejarah Seorang Hoegeng

Bagi orang yang berminat mendalami sejarah, terutama sejarah Polri, tentu tidak akan lupa dengan sosok yang satu ini. Ya, Hoegeng Imam Santoso adalah sosok polisi yang sangat terkenal akan kejujuran dan selalu berpegang teguh pada prinsip. Sosok yang tidak disukai para pelanggar hukum, para penyogok pejabat, kaum otoriter, dan pejabat Orde Baru. Namun siapakah Hoegeng? Hoegeng Imam Santoso yang lahir di Pekalongan pada tanggal 14 Oktober 1921, adalah salah satu tokoh polisi Indonesia yang berpengaruh dan juga salah satu penandatangan Petisi 50. Dia masuk pendidikan HIS pada usia enam tahun, kemudian melanjutkan ke MULO (1934) dan menempuh sekolah menengah di AMS Westers Klasiek (1937). Setamat AMS A, dia menjadi mahasiswa Sekolah Hukum Tinggi (Rachts Hoge School/RHS) Batavia pada tahun 1940. Dalam perkumpulan mahasiswa USI (Unitas Studiorum Indonesiensis), Hoegeng berkenalan baik dengan sesama mahasiswa, Soebadio Sastrosatomo, Hamid Algadri, Chaerul Saleh, Soedjatmoko, Soedarpo Sastrosatomo, dan Subandrio. Karena perang pecah, studinya terkapar. Sewaktu pendudukan Jepang, dia mengikuti latihan kemiliteran Nippon (1942) dan Koto Keisatsu Ka I-Kai (1943). Baru dia diangkat menjadi Wakil Kepala Polisi Seksi II Jomblang Semarang (1944), Kepala Polisi Jomblang (1945), dan Komandan Polisi Tentara Laut Jawa Tengah (1945-1946). Kemudian mengikuti pendidikan Sekolah Polisi Negara Bagian Tinggi (kelak berganti nama menjadi Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Tahun 1950, Hoegeng mengikuti Kursus Orientasi di Provost Marshall General School pada Military Police School Port Gordon, George, AS. Dari situ, dia menjabat Kepala DPKN Kantor Polisi Jawa Timur di Surabaya (1952), tahun 1956 diangkat sebagai Kepala Reserse Sumatera Utara di Medan yang “kesohor” sebagai tempat pedagang Tionghoa yang hobi menyuap pejabat-pejabat. Hoegeng disambut secara unik, rumah pribadi dan mobil telah disediakan beberapa cukong judi. Tapi ia menolak, dan memilih tinggal di hotel sebelum mendapat rumah dinas. Masih ngotot, rumah dinas itu lalu dipenuhi dengan perabot oleh tukang suap. Kesal, ia mengultimatum agar barang-barang itu diambil kembali oleh pemberi. Karena tidak dipenuhi, perabot itu dikeluarkan secara paksa oleh Hoegeng dari rumahnya dan ditaruh di pinggir jalan. Maka, gemparlah Kota Medan karena ada seorang kepala polisi tidak mempan disuap.
Tahun 1959, ia mengikuti pendidikan Pendidikan Brimob dan pada awal 1960 diangkat sebagai Kepala Direktorat Reskrim Mabes Polisi, tetapi dibatalkan, lalu ditarik ke Mabak. Lepas dari Mabak, ia lalu ditugaskan sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) Imigrasi. Selepas menjabat sebagai Dirjen Imigrasi, atas usul Sultan Hamengku Buwono IX, Hoegeng diangkat menjadi Menteri Iuran Negara dalam kabinet "seratus menteri" Juni 1965.
Tahun 1966, setelah Hoegeng pindah ke markas Kepolisian Negara kariernya terus menanjak. Di situ, dia menjabat Deputi Operasi Pangak (1966), dan Deputi Men/Pangak Urusan Operasi juga masih dalam 1966. Terakhir, pada 5 Mei 1968, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Kepolisian Negara (tahun 1969, namanya kemudian berubah menjadi Kapolri), menggantikan Soetjipto Joedodihardjo. Dalam jabatan ini, terjadi beberapa kasus yang menarik perhatian publik, seperti Sum Kuning, penyelundupan Robby Tjahyadi, dan tewasnya Rene Coenrad mahasiswa ITB.
Banyak hal terjadi selama kepemimpinan Kapolri Hoegeng Iman Santoso. Pertama, Hoegeng melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut Struktur Organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya, struktur yang baru lebih terkesan lebih dinamis dan komunikatif. Kedua, adalah soal perubahan nama pimpinan polisi dan markas besarnya. Berdasarkan Keppres No.52 Tahun 1969, sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI (Pangak) diubah menjadi Kepala Kepolisian RI (Kapolri). Dengan begitu, nama Markas Besar Angkatan Kepolisian (Mabak) pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian (Mabespol). Di bawah kepemimpinan Hoegeng peran serta Polri dalam peta organisasi Polisi Internasional, International Criminal Police Organization (ICPO), semakin aktif. Hal itu ditandai dengan dibukanya Sekretariat National Central Bureau (NCB) Interpol di Jakarta.
Ia dicopot dari jabatannya karena bekerja keras dalam membasmi penyelundupan. Salah satu kasus yang ditanganinya adalah kasus penyelundupan mobil mewah yang didalangi Robby Tjahyadi atau Sie Tjie It. September 1971, Hoegeng mengumumkan kepada masyarakat tentang usahanya yang berhasil membekuk penyelundupan mobil mewah lewat Pelabuhan Tanjung Priok. Mobil-mobil itu dimasukkan dengan perlindungan tentara, dan dilaporkan Ibu Tien terlibat juga. Keuletan menuntaskan kasus besar itu menyebabkan Hoegeng diberhentikan oleh Presiden Soeharto. Sebelumnya Hoegeng merintis pemakaian helm bagi pengendara motor yang saat itu menjadi polemik. Kini terasa, instruksi itu memang bermanfaat dan menjadi suatu keharusan saat ini.
Hoegeng kemudian ditawari jabatan duta besar di Eropa (Belgia), tetapi ia menolak. Alumnus PTIK tahun 1952 ini lebih senang menjadi orang bebas, ia tampil dengan grup musik Hawaian Seniors di TVRI, satu-satunya saluran televisi masa itu. Namun, musik barat dengan kalungan bunga itu dianggap kurang sesuai dengan "kepribadian nasional" oleh Menteri Penerangan Ali Moertopo sehingga ia tidak boleh tampil lagi. Lalu, Hoegeng bergabung dengan rekan-rekannya yang kritis dalam Petisi 50. Pun begitu, ia tetap sederhana. Saat rapat kelompok ini di rumah Ali Sadikin, tidak jarang Hoegeng naik bajaj. Itulah Hoegeng, yang banyak dikenal sebagai tokoh yang penuh kesederhanaan. Beliau wafat di Jakarta pada tanggal 14 Juli 2004 karena serangan stroke.

Perspektif Sejarah Dalam Penulisan Otobiografi Hoegeng

Ada beberapa hal yang patut diketengahkan dalam penulisan otobiografi ini, antara lain:

1. Abrar Yusra dan Ramadhan KH memiliki latar belakang menulis sastra dan biografi. Khusus Ramadhan KH, ia menulis biografi lebih dari 20 tahun, dan kurang lebih 30 judul buku biografi telah dihasilkannya. Dalam menulis otobiografi Hoegeng, ia menggunakan metode wawancara pada narasumber (Hoegeng) dan juga melakukan studi pustaka. Karena berlatar belakang sastra, maka ia memakai pendekatan novel pada penulisan otobiografi ini. Baginya sebuah biografi laiknya novel sejarah, karena ia harus mempunyai kejujuran sejarah, otoritas sejarah dan warna lokal yang kental. Ramadhan KH meninggal dunia di Cape Town (Afsel) tanggal 16/03/2006 di usia ke-79 tahun. Sedangkan Abrar Yusra saat ini masih aktif menulis puisi, sastra dan biografi.

2. Penulis bersedia mengemas narasi tentang Hoegeng, seperti halnya copywriter menulis iklan dan advertorial untuk produk-produk industri. Dalam perspektif sejarah, lebih sering terjadi hal-hal yang sebaliknya, yaitu narasumber menulis memoar setelah mengundurkan diri dari posisi kekuasaannya. Buku ini ditulis saat Hoegeng sudah mengundurkan diri, jadi terdapat rentang waktu yang cukup lama untuk mencari sumber-sumber primer maupun sekunder (1971 – 1993). Sumber primer yang digunakan penulis adalah wawancaranya dengan Hoegeng maupun pencarian kopi surat kabar yang mengetengahkan sepak terjang Hoegeng semasa menjabat sebagai Kapolri (Harian Abadi, Angkatan Bersendjata, Berita Yudha, Kompas sampai Sinar Harapan – medio 1968 s/d 1971). Penulis tidak melakukan wawancara selain dengan narasumber, karena ingin bercerita tentang diri dan kehidupannya guna memberi konteks pemahaman pembaca tentang zamannya saat itu.

3. Penulis otobiografi ini menggunakan historiografi dalam penulisannya, dimana dokumen-dokumen diambil dari riwayat perjalanan Hoegeng baik melalui wawancara langsung dengan narasumber (Hoegeng) maupun mencari rekam jejak perjalanan karir Hoegeng lewat surat kabar-surat kabar saat beliau menjabat sebagai Kapolri. Penulis tidak sedikitpun memasukkan persepsi pribadinya kedalam tulisannya karena sepenuhnya hasil pemikiran maupun ucapan dari narasumber itu sendiri. Penulisan dikemas secara naratif dengan pendekatan novel agar pembaca memahami situasi yang dialami Hoegeng sesuai dengan zamannya.

4. Objektivitas sejarah yang terkandung dalam otobiografi ini sudah berhasil diciptakan oleh si penulis, karena bersumber langsung dari narasumber (Hoegeng) sendiri. Misalnya interpretasi penulis mengenai sebab musabab Hoegeng tidak disukai oleh Presiden Soeharto sehingga diberhentikan dari Kapolri, bukan merupakan persepsi pribadi si penulis namun bersumber dari penuturan Hoegeng. Pun begitu dengan Hoegeng saat ditarik ke Mabak (lihat hal. 284).

5. Penulisan bagian perbagian dari buku ini, mulai dari masa kecil Hoegeng sampai saat Hoegeng “diasingkan” merupakan periodisasi yang diberikan penulis untuk memudahkan pembaca memahami sepak terjang Hoegeng. Dan mengapa ia disebut polisi yang jujur bukan dihembuskan oleh Hoegeng sendiri namun sepenuhnya diambil dari intisari penuturan Hoegeng saat ia menolak suap cukong judi di Medan, tidak mau memakai kendaraan baru karena kendaraan dinasnya masih laik jalan, lebih baik naik sepeda onthel sambil menunggu perbaikan mobil dinasnya daripada menerima pemberian mobil dari judi, penolakan rumah dinas baru karena rumah dinas lama masih representatif, menolak menjadi Dubes di Eropa sebagai kompensasi “tutup mulut” atas kasus penyelundupan yang menimpa keluarga Cendana, maupun saat menghadiri rapat Petisi 50 dengan menggunakan bajaj. Ini semua merupakan pencerminan kejujuran yang ditampilkan oleh seorang pejabat Polri, yang sampai saat ini tidak ada yang menandinginya.

6. Tujuan yang hendak dicapai oleh penulis adalah:
a. Memberikan gambaran perjalanan hidup Hoegeng yang begitu menghayati perannya sebagai aparat hukum, sehingga sanggup mendarmabaktikan seluruh kehidupannya untuk menjadi sosok yang penuh wibawa dan mengutamakan kejujuran dalam perilakunya.
b. Bahwa menjadi jujur adalah tidak susah, yang penting ia sanggup menahan diri dari godaan duniawi serta sanggup untuk bekerja keras demi menegakkan keadilan dan kebenaran diatas segalanya.
c. Memberi pelajaran bahwa menjadi pemimpin itu tidak mudah, ia harus mampu memberikan contoh terlebih dahulu dengan perbuatan dibandingkan sekedar perkataan. Ada beberapa pesan moral yang terkandung disetiap perjalanan hidup Hoegeng, baik itu mengenai tidak mencampur adukkan jabatan dengan konsekuensi jabatannya, berani menolak hal-hal yang berbau korupsi, mempertahankan hidup sederhana daripada hidup bergelimang harta yang tidak wajar, sifat korup selama menjabat, dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar