Kamis, 07 Januari 2010

10 Alasan Indonesia Harus Mundur Bidding Piala Dunia 2022



Ngenes…trenyuh…prihatin..!! Mungkin itu sebagian kata-kata yang terucap dari bibir jutaan pecinta sepakbola Indonesia melihat prestasi tim nasional sepakbolanya mulai dari level junior sampai senior, tidak ada yang berprestasi…langit hitam menaungi sepakbola nasional kita. Ketidakmampuan pelatih mengatur strategi pertandingan, pemilihan pemain yang tidak mampu mengadaptasi kemauan pelatih, minimnya ujicoba yang bermutu, sampai pada kurang semangatnya pemain di lapangan. Mungkin itu yang membuat nama Hendri Mulyadi (20 th) menjadi headline news di koran-koran nasional, karena kegemasan dia melihat timnas kesayangannya tidak mampu menjebolkan gawang Oman, dan sepanjang pertandingan selalu menjadi bulan-bulanan pemain Oman, maka dia berinisiatif masuk ke lapangan, bukan membuat onar namun inilah yang dinamakan geram….tapi alih-alih menjebolkan gawang Ali Al-Habsi (Oman), bola masih bisa ditahan oleh sang kiper! Halaaahh….pemain kita aja gak bisa menjebolkan gawang lawan apalagi penonton…hehehehehe! Ironis kan?
Nirprestasi PSSI patut mendapat tanda tanya besar, apalagi yang kurang dari organisasi tersebut? Penggunaan APBD terbesar untuk tim bola, olahraga favorit Indonesia ya sepakbola, anggaran terbesar pelatnas olahraga ya sepakbola itulah….thus, apalagi yang harus dibanggakan? Ditambah dengan niat kita jadi tuan rumah Piala Dunia 2022, wah bidding-nya saja memakan biaya 250 milyar, mending buat perbaikan mutu sepakbola kita. Betul kata Menpora, Andi Mallarangeng, sebaiknya kita meningkatkan prestasi sepakbola nasional dulu baru ikut daftar jadi tuan rumah Piala Dunia!

Mungkin sebaiknya kita mundur saja dari pendaftaran tuan rumah Piala Dunia 2022, karena ada 10 alasan yang perlu menjadi garis bawah antara lain:
1. Prestasi Timnas.
Sampai saat ini kita masih belum berprestasi di dunia internasional yang membuat timnas asing melirik Indonesia sebagai lawan tanding yang sepadan. Jangankan antar benua, di regional Asia Tenggara saja kita mulai keteteran, dulu suatu hasil yang tabu kalau kita sampai kalah dari Laos, Kamboja, atau Myanmar. Sekarang? negara-negara itulah yang menorehkan tinta merah pada kita. Lawan Laos saja kita kalah 0-2 apalagi Argentina lengkap dengan Messi-nya yang bertanding?

2. Pemain Timnas.
Pemain timnas kita selalu dikeluhkan oleh pelatih manapun. Pemain kita kebanyakan terbentuk secara alam, bukan berdasarkan bimbingan teknik dan taktik. Selalu bermain keras dan cenderung kasar seolah menjadi makanan sehari-hari, jadi tak jarang kita selalu mendapat kartu merah dari wasit yang menyebabkan Indonesia menderita kekalahan karena kekurangan pemain. Permainan yang selalu terbaca diakibatkan visi dan misi pelatih yang kurang memahami sepakbola modern. Perlu perbaikan pada segi kompetisi dan teknik serta taktik pemain kalau ingin maju.

3. Stadion.
Kebanyakan stadion kita tidak memenuhi standar internasional, ketidakberdayaan kita untuk memelihara membuat stadion cepat sekali tidak terawat. Permukaan lapangan yang tidak rata membuat pemain tidak mampu menggiring bola dengan baik. Selain itu juga usia stadion sudah tua dan jauh dari kesan modern sebagai nilai jual menjadi tuan rumah Piala Dunia. Misalkan saja, Senayan yang kita bangga-banggakan dibuat tahun 1962, kalau ikut dipakai PD 2002 berarti usianya sudah 42 tahun!

4. Transportasi.
Kemacetan menjadi prioritas utama apabila hendak menyelenggarakan Piala Dunia, kita lihat di Jakarta saja tahun 2010 jalanan sudah sedemikian padat apalagi nanti 12 tahun mendatang? Bisa-bisa suatu sejarah tercipta, tim finalis terlambat datang karena terjebak kemacetan akibat banjir!

5. Akomodasi.
Kurangnya akomodasi yang representatif di luar Jakarta membuat suporter dari negara lain bingung mau menginap dimana? Kalaupun dipaksakan untuk dibuat, apakah setelah selesai Piala Dunia, fasilitas itu akan dimanfaatkan?

6. Kriminalitas.
Indonesia mempunyai karakteristik kriminal mirip dengan Afsel, perlu perhatian yang serius dari aparat penegak hukum untuk membersihkan kota-kota yang menjadi host PD dari kriminalitas jalanan. Jangan sampai penonton luar negeri dipalak saat selesai menonton pertandingan.

7. Cuaca.
Sebagai negara tropis, Indonesia cuma memiliki 2 musim, musim hujan dan kemarau. Dan kita tidak bisa memprediksi apakah bulan Juni-Juli akan masuk musim kemarau, karena bisa jadi sepanjang bulan itu musim hujan. Kalau sudah begini, apakah timnas Jerman protes harus main ditengah guyuran hujan dan petir?

8. Anggaran.
Memang perlu dana yang besar untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia. Untuk bidding saja membutuhkan dana 300 milyar, belum pembangunan stadion berstandar internasional, promosi, pembangunan transportasi publik, pembangunan hotel atlit, pemeliharaan tempat wisata, dll. Berapa trilyun yang harus dikeluarkan? Darimana dana itu diambil? Apakah kalau dana tersebut terserap, penerimaan kita nantinya dapat mencukupi untuk menutupi apa yang telah dikeluarkan?

9. Dukungan Pemerintah.
Saat ini saya belum melihat keseriusan pemerintah untuk mendukung Indonesia jadi host Piala Dunia, ini mungkin melihat prestasi timnas kita yang berantakan, bahkan bisa dikatakan memalukan. Lain halnya apabila prestasi kita langsung melejit menjadi juara Asia 2011! La wong kualifikasi aja terseok-seok….

10. Penonton.
Penonton kita hanya mau menonton timnas kita bertanding, yang dikuatirkan apabila mereka tidak mau menonton tim lain. Dengan demikian mengharapkan suporter negara tersebut jelas tidak bisa diharapkan, sedangkan apabila kita mau menonton tentu tiketnya luar biasa mahal….jadi siap-siap saja pertandingan Paraguay vs Senegal (misalnya) hanya ditonton 1000 orang saja! Ini pertandingan Piala Dunia atau tarkam?

Jadi karena ke-10 alasan tersebut diatas, maka saya sebagai warganegara yang baik menyarankan agar kita mundur saja dari pencalonan tuan rumah Piala Dunia 2022, lebih baik dana yang disediakan untuk itu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membentuk timnas yang tangguh, program pelatihan yang bagus, perbaikan stadion yang bertaraf internasional, perbaikan perilaku pemain dan suporter, kompetisi diatur agar lebih profesional, dan program pembinaan usia dini. Majulah sepakbola Indonesia!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar