Kamis, 06 Agustus 2009

MBAH SURIPMOLOGY


Terkejut saya ketika hari Selasa (4/8) pukul 10.30 Wib lalu tersiar kabar bahwa salah satu ikon musik Indonesia, Mbah Surip meninggal dunia karena terkena serangan jantung. Terlepas dari sosoknya yang fenomenal, sang jutawan baru, lirik lagu yang sederhana, dan kehidupan kesehariannya yang bersahaja, berita kematian Mbah Surip telah menenggelamkan popularitas King of Pop, Michael Jackson. Ketika MJ meninggal dunia, hampir setiap hari kita selalu mendengar berita mengenai perjalanan hidupnya yang berlika-liku, kedekatannya pada obat-obatan, penjualan albumnya yang melonjak secara signifikan sampai kontroversi seputar pemakamannya yang ditonton hampir sepertiga penduduk bumi (yang tidak jelas juga kapan dimakamkan atau tempat pemakamannya). Ketika kabar menyedihkan tentang Mbah Surip datang, seakan-akan MJ sudah kita relakan untuk mengalir sendiri kemana ia mau, pandangan kita kemudian beralih pada sosok pria Mojokerto berusia 52 tahun ini.
Mbah Surip yang bernama asli Urip Achmad Rijanto Soekotjo ini lahir di Mojokerto pada tanggal 5 Mei 1957, setelah ia menyelesaikan studinya di Universitas Sunan Giri Cab.Mojokerto (Fakultas Teknik Mesin) pada tahun 1979, iapun menikah dengan Minuk Sulistyowati dan dikaruniai 4 orang anak. Demi menyambung hidupnya, iapun rela berkelana mencari penghidupan yang layak mulai dari pengeboran minyak, tambang berlian, sampai kemudian ia menekuni bidang seniman. Tempat-tempat yang ia kunjungi lumayan banyak mulai dari Kanada, Texas, Yordania, dan California. Lelaki yang ternyata menyandang gelar Drs, Insinyur dan MBA ini kemudian mengadu nasibnya di Jakarta. Karena terlalu lama merantau, akhirnya Minuk meminta cerai dan kawin lagi sedangkan Mbah Surip tetap memegang teguh prinsipnya untuk menduda. Di Jakarta, ia berkumpul dengan sesama komunitas seniman lainnya yang tergabung di Bulungan, Taman Ismail Marzuki, dan Bengkel Teater Rendra. Dalam perjalanan karir bermusiknya, dia ternyata sudah menelurkan beberapa album diantaranya Ijo Royo-Royo (1997), Indonesia I (1998), Reformasi (1998), Tak Gendong (2003), dan Barang Baru (2004). Dari semua albumnya memang tidak ada yang melesat menjadi top best seller album, sampai akhirnya single “Tak Gendong” secara luas disiarkan sebagai iklan RBT (ring backtone) di salah satu televisi swasta Indonesia. Seketika itu juga, seiring dengan banyaknya masyarakat yang mengunduh single itu sebagai RBT, maka tawaran manggungpun membanjir. Padahal single “Tak Gendong” sendiri ia ciptakan ketika berada di Amerika Serikat pada tahun 1983.
Ada sebagian pelajaran hidup yang bisa dipetik dari perjalanan karir Mbah Surip, dan semua filosofi hidup tersebut ia lantunkan dengan syair yang jenaka. Dikala industri musik Indonesia dipenuhi oleh grup-grup band remaja yang ditelurkan secara instan, dan dengan syair-syair bernada cinta nan mendayu-dayu (yah mirip-mirip lagu-lagu Betharia Sonata namun dipadu dengan Search-nya Malaysia, ditambah dengan cengkok Melayu yang mirip penyanyi-penyanyi di RTM/TV3), Mbah Surip datang dengan sebuah lagu yang ringan, jenaka dan penuh makna. Memang kalau ditinjau, lagu Mbah Surip kalah jauh bermutu dengan lagu-lagu yang penuh dengan syair, ritme dan puitisasi beberapa artis musik papan atas Indonesia lainnya. Bahkan dikalangan artis sendiri banyak yang mencibir lagu tersebut karena dianggap tidak bermutu, syair terlalu mudah, dan beat yang terlalu ringan. Namun terlepas dari itu semua, yang harus kita dipelajari disini adalah kesahajaan sang penyanyi itu sendiri yang jauh dari kontroversi. Oleh sebab itu saya bisa sebut fenomena ini sebagai Mbah Suripmology. Mbah Surip seakan mengajarkan kepada kita tentang ilmu suatu filosofi hidup yang pada saat kita berada di puncak karir tidak harus ikut mentransformasi diri menjadi orang lain, sebagai manusia juga harus belajar salah, serta apabila menjadi orang besar kita janganlah merasa jumawa didepan orang lain. Filosofi hidup Mbah Surip ini yang harus kita camkan bahwa jadilah diri kita sendiri, jangan takut untuk dikucilkan apabila kita tidak seperti orang-orang disekeliling kita. Ingat bahwa hidup, mati, rejeki, dan jodoh sudah diatur oleh Yang Mahakuasa. Manusia sebagai makhluk Tuhan tak luput dari kesalahan, dan untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut kita harus terus belajar karena belajar tidak ada habisnya. Kemudian, apabila suatu waktu kita sudah menjadi orang besar (jadi pejabat, orang kaya, pimpinan negara, dll) kita janganlah besar kepala, karena diantara kekuasaan dan jabatan yang diemban tersebut terdapat amanah dari orang yang mengusungnya untuk menjadi pejabat tersebut. Lebih baik kita pada keseharian kita saja, tidak perlu memamerkan harta kekayaan kita, tidak perlu berantem demi harta warisan, tidak perlu gontok-gontokan (berkelahi) antar sesama saudara (sebangsa), dan tidak perlu malu untuk mengakui asal-usul kita dahulu (dulunya orang desa yang pilun ketika menjadi pejabat malu untuk membangun desanya, malu untuk mengakui bahwa ia orang kampung, atau malu untuk berkebiasaan saat di kampung dulu). Mbah Surip mengajarkan kepada kita hal itu semua. Disaat dia sedang menapaki karirnya, dia tidak langsung beli rumah mewah, mobil mewah, kawin lagi. Dia bahkan tidak tahu berapa keuntungan dari hasil RBT, royalti, atau honor manggungnya yang kata orang-orang mencapai milyaran rupiah. Dia tetap Mbah Surip kala belum populer, masih mau naik ojek, masih mau berkumpul dengan teman-teman sesama seniman, masih mau minum kopi di warung, bahkan pada teman-teman yang tidak bernasib mujur ia masih mau menolong dengan mencarikan lahan usaha sampingan selain menekuni bidang kesenimannya tersebut. Bahkan ketika matipun ia tidak mau menyusahkan semua orang, ia ingin dikuburkan dimana dia bisa berkumpul bersama teman-temannya yang telah mensupport dia selama ini baik secara moril maupun materil, meskipun banyak yang ingin ia dikuburkan di kampung halamannya, namun mungkin ia berpendapat lain. Seandainya ia dikuburkan di Mojokerto mungkin akan menyusahkan banyak pihak, maka ia berwasiat lebih baik dikuburkan di tempat ia memulai perjalanan hidup yang sesungguhnya. Itulah yang diajarkan kepada kita bangsa Indonesia, mencintai sesama. Kita boleh tertawa akan keluguannya, kita boleh tertawa syairnya kok minimalis, kita boleh tertawa kok tua-tua renta bisa jadi artis, tapi yang paling pas adalah kita boleh tertawa atas diri kita sendiri. Karena dengan tertawa atau senyum sekalipun, akan membawa kebahagiaan bagi orang lain yang melihatnya. Saya akan selalu mengenangmu Mbah Surip, I Love You Full….Ha..Ha..Ha..Ha…Haaaaaaaaaah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar